Tampilkan postingan dengan label Story : True Story. Tampilkan semua postingan
ANGGA and NADYA
.
Category Story : True Story
Kisah Cinta Khalifah Ali Bin Abi Thalib Dan Fatimah Az-zahra
.
Category Story : True Story
Pacaran Itu Bukan Karena Kasihan, Mei (2)
.
Malamnya Mei langsung mojokin Kiki tentang sukarelawan sumber informasinya itu yang udah mengaku di hadapan Mei langsung tadi pagi.
"Informan kamu Irni kan?" kata Mei to the point.
"Bukan."
"Ok, Rizki kalau gitu?"
"Bukan."
"Capek ya ngomong sama kamu. Pinter bohong banget."
"Aku nggak bohong."
"Jelas-jelas Irni udah ngaku di hadapan aku langsung, kamu masih aja bilang bukan. Liar!"
"Kamu juga pembohong!"
"Apa?"
"Di social networking kamu yang lain, jelas terlihat semua kebohongan kamu."
"Twitter?"
"Iya."
'Oh damn!!! Kiki kan nggak punya twitter, kenapa dia bisa tau isi tweet-tweet gue. Mati kutu 2 kali gue!' kata Mei dalam hatinya.
"Kamu baca apa?" akhirnya pertanyaan seperti itu terlontar dari mulut Mei.
"Semua."
Ingin sekali Mei menutup teleponnya saat itu saking malunya.
Tapi siapa tau Kiki hanya menakut-nakuti saja, dengan sedikit keberanian, Mei akhirnya bertanya
"Contohnya?"
"Yee tadi sempat ngobrol sama dia di kantin, hmm tapi bentar banget, di ganggu sama si ambon sih."
'Mampus gue!' Kali ini Mei speechless total, nggak tau mau ngomong apa lagi.
Sampai akhirnya kiki berkata dengan nada datar.
"Ya udah nggak usah di pikirin, selama masih wajar, nggak akan aku permasalahin, tidur gih!"
Tutttt.....
Telepon pun terputus...
Mei lega dengan itu, untuk sementara dia terbebas dari keterpojokan yang dia mulai sendiri, yang malah jadi senjata makan tuan untuk dirinya. . Sial!
***
Hari demi hari, Mei sengaja buat Kiki agar mutusin Mei.
Mei sengaja update tweetnya pakai lirik dari lagu geisha yang 'Takkan pernah ada', yang jelas-jelas Mei nyebutin untuk siapa lagu itu dia tujukan, yah, buat Tian. Siapa lagi.
Puncakmnya Mei nekat update tweet pakai lirik lagu dari kotak yang pelan-pelan saja. Yang secara garis besar makna lagu itu adalah minta putus. Mei membangunkan macan yang sedang tidur. Benar-benar bikin masalah.
Malamnya Kiki sms Mei.
"Pengen nelepon, minta waktu."
Tapi karena waktu itu Mei lagi sibuk belajar matematika untuk UAS besok, maka Mei acuh tak acuh menerima telepon dari Kiki.
"Halo, ada apa, Ki?" tanya Mei tanpa dosa.
"Mau kamu gimana?"
"Hah? Maksudnya?"
"Yah tentang kita, bla,bla . . "
Mei tak begitu memperhatikan penjelasan Kiki. Dia sibuk dengan rumus-rumus matematika yang sulit dan membingungkan.
Sadar bahwa ucapannya tak di gubris oleh Mei, Kiki marah dan langsung memutuskan teleponnya.
Mei yang sibuk sendiri baru sadar bahwa teleponnya sudah terputus.
Mei akhirnya menelepon balik Kiki.
"Kenapa di tutup?" tanya Mei.
"Huh. Kamu sibuk sendiri." jawab Kiki kesal.
"Maaf, kan tadi aku udah bilang lagi belajar matematika untuk besok."
"Ya,ya,ya." kata Kiki malas-malasan.
"Kok gitu?"
"Aku mau ngomong serius."
Deg!!!
Mei sudah tahu persis arah pembicaraan Kiki akan kemana. Mei menarik nafas panjang, agar dirinya siap untuk mendengarkan semuanya.
"Mau ngomong apaan?"
"Kamu udah tau kan apa yang mau aku omongin."
"Hah? Apaan?" Mei berbohong.
"Ya udahlah sendiri-sendiri aja kalau gitu." ucap kiki.
Dan dengan gampang Mei menjawab "Ohh, ya udah."
Suasana pun hening sejenak, hingga Mei bertanya dengan gaya sok lugunya dan tanpa rasa bersalah.
"Emm, tapi kita nggak musuhan kan?"
"Nggak tau lah, udah malem, mau tidur." tut.. tut.. tut..
Sambungan telepon pun terputus.
"Hufft" Mei cuma bisa menghela nafas pasrah sama resiko yang akan diterimanya.
Finally,, cinta Mei dan Kiki yang baru 3 minggu pun putus.
Di sekolah mereka perang dingin,, seperti nggak saling kenal. Ya, mungkin ini yang terbaik..
***
7 bulan kemudian, Mei mendengar kabar dari Ika kalau papanya Kiki meninggal.
Mei bingung, mau ngucapin turut berduka cita atau nggak.
Dia sibuk nanya ke teman-temannya.
Akhirnya, dengan keputusan yang amat sangat bulat.
Mei mengirim sms ke kiki sebagai ungkapan turut berduka citanya, sekaligus memberinya semangat dan terus bersabar.
Smspun terkirim.
Semenit, 2 menit, 3 menit, sampai berjam-jam. Nggak ada balesan dari Kiki.
Dalam hati Mei "Kiki benar-benar nggak maafin gue, bilang makasih aja nggak. :("
Setelah kejadian itu Mei sempeat kesel, tapi mau gimana juga itu semua emang resiko yang Mei buat sendiri..
Mei menjalani kehidupannya seperti biasa. Bahkan mungkin Mei sudah lupa sama kejadian itu. Ckckck..
***
Besok sudah masuk hari pertama puasa di tahun ini.
Dengan ragu-ragu Mei mengirim ucapan ramadhan meminta maaf lahir dan batin ke Kiki.
Dia sudah pasrah kalau Kiki nggak bakal bales smsnya itu.
Tapi,, 5 menit berlalu, HP Mei bergetar tanda ada sms.
Saat dibuka, Suprise!!!
Kiki ngirim ucapan "Met puasa mohon maaf lahir & batin juga."
Mei senang, karena ternyata Kiki sudah maafin Mei.
Syukurlahhh...
_Tamat_
Category Story : True Story
Pacaran Itu Bukan Karena Kasihan, Mei (1)
.
Entah mengapa Mei dan Kiki bisa pacaran.
Padahal dalam hati Mei, nggak ada rasa suka sedikitpun pada Kiki.
Mungkin karena menghargai Kiki yang dah baik banget sama dia sehingga Mei nggak tega buat menolaknya, maka Mei nerima Kiki.
Mungkin juga, Mei takut kehilangan orang yang selama ini meramaikan inbox telepon genggamnya.
Atau mungkin karena Mei iri pada teman-temannya yang sudah pada punya pacar.
Atau, mungkin juga Mei capek dengan status 'Jomblo'?? Entahlah. .
"Semoga itu keputusan yang tepat." kata Mei dalam hati.
Sehari, dua hari...
Masih berjalan seperti biasa.
Smsan tiap hari, mulai panggil nama sampai sayang-sayangan, dari basa-basi nanyain lagi apa sampai ngegombal. . Tapi cupunya kalau ketemu mereka cuma sekedar say hello, pasang senyum manis dan berlalu begitu saja. Nggak pernah ngobrol. Canggung kali yaa.
***
Pas di kantin Mei, Ika, Dini, Irni, dan Rima lagi makan-makan sambil ngegosip.
Kiki sms Mei "Lagi dmna Mei?"
"Lagi makan2 nih ma tmn."
"Wih, gak ngajak2."
"Haha."
"Pulang bareng yuk yangg!"
"Hah? Masih lama loh aku pulangnya"
"Iya gak pa2, aku tunggu diparkiran ya."
"Hmm, Ok deh"
Mei langsung pamit ke teman-temannya. Ditanya mau kemana, Mei cuma senyum lalu pergi meninggalkan teman-temannya.
"Cieee..."
"Prikitiww!!!"
"Cuitt... Cuitt..."
Ledek teman-temannya. Mei cuma mnggeleng-gelangkan kepalanya menanggapi semua ledekan teman-temannya itu.
Baru pertama kali ini Mei pulang bareng Kiki setelah mereka jadian.
(Mei pernah pulang bareng sama Kiki sebelum mereka jadian, waktu habis pulang dari burger. Padahal Dini nggak ngebonceng siapa-siapa, tapi kenapa mesti manggil Kiki buat nganter Mei. Pasti mereka sengaja kayak gitu, buat nyomblangin Mei dan Kiki gitu deh. Sampai akhirnya, Kiki nembak Mei di hari itu juga. Huftt...)
Mei sudah sampai di parkiran, dia mencari-cari Kiki.
Terlihat Kiki lagi duduk di motornya bersama teman-teman cowoknya.
Dengan ogah-ogahan Mei nyamperin Kiki.
"Mei? Cepet amat. Katanya lama." kata Kiki yang baru sadar kalau Mei sudah berdiri di sampingnya.
"Jadi kamu mau aku lama gitu?" tanya Mei jutek.
"Ya nggaklah. Lebih cepat lebih baik." kata Kiki meniru kata-kata salah satu calon Presiden tahun 2009.
"Ohh."
"Ya udah yuk. Duluan ya cuy!" pamit kiki pada teman-temannya. Yang di bales anggukan dan kata-kata "Yoo!" dari teman-temannya.
Mei dan Kiki pun pergi dengan dibonceng motornya Kiki. Di perjalanan? Jangan tanya deh. Kebanyakan diem.
Akhirnya sampai di rumah nenek Mei.
Mereka berdua saling pamit. Mei merasa lega. "Hhhh..."
Hampir 2 mnggu Mei dan Kiki baik-baik saja, nggak ada masalah dalam hal pacaran mereka.
Tapi masalah pun muncul.
Malam hari Kiki nelepon Mei,
"Mei, masih suka sama Tian?" tanya Kiki dengan suara pelannya.
"Hah?" Mei kaget banget tiba-tiba ditanya kayak gitu.
"Kamu masih suka sama Tian?" ulang Kiki.
"Tian? Kok kamu tau?"
"Ada deh. Udah jawab aja!"
"Tau darimana?"
"Jawab dulu!"
"Tau darisapa?"
"Huft," Kiki menghela nafas, lalu melanjutkan kata-katanya "Baca dari note FB kamu."
"Yang mana?"
"Pokoknya dari situ. Nggak tau yang mana."
"Bohong! Aku kan nggak nyebutin nama."
"Ya udah jawab aja dulu pertanyaan aku tadi!"
"Pembohong!"
"Huft" kiki menghela nafas lagi "Tau dari feel aku juga, kamu tau kan feeling aku tentang kamu selalu benar, nggak pernah meleset"
Hmm. . Memang sih feeling Kiki selama ini selalu tepat ke Mei, Mei saja sampai kaget waktu Kiki nebak hal-hal yang di luar dugaan tentang Mei. . Contohnya waktu Mei pasang status FB..
"Jangan kan nyapa, melirik pun tidak, huft :("
Malamnya Kiki langsung sms nanyain status itu tentang siapa, ya Mei jawab saja "Itu teman SMP aku tadi ketemu di jalan acuh gitu aja"
Tapi Kiki malah jawab "Bohong, paling juga itu cowok yang selama ini kamu suka"
Beneran! Saat Kiki berkata seperti itu, Mei kaget banget! Jawaban Kiki tepat sasaran!
"Siapa? Ngaco" dari situ langsung saja Mei alihin topik. Sebelum Kiki nebak yang macem-macem lagi. .
Tapi kalau yang kali ini. Pikir Mei dalam hati.
"Impossible,, pasti ada orang ketiga sebagai informan kamu kan. . Ngaku!"
"Nggak ada."
"Penipu!"
"Jadi intiyna kamu masih suka sama dia?"
"Nggak juga,, itu kan perasaan zaman dulu banget,, lihat dong aku nulis note itu bulan apa,, udah lama gitu."
"Oh,, yaa. . Mudah-mudahan aja gitu"
"Emang gitu kok. Terus siapa sumber informasi kamu itu?"
"Nggak ada."
"Bohong banget. Aku tutup nih teleponnya kalau nggak mau ngaku!" ancam Mei.
Tapi dengan santai Kiki malah bilang "Tutup aja."
Hah? Tutup aja? Mei kesal dengan jawaban itu, dan tanpa basa-basi lagi Mei langsung menekan tombol merah di HPnya.
Tut.. Tut.. Tut..
Percakapan pun terhenti.
***
Setelah semalaman Mei kepikiran tentang orang yang tega ngebocorin rahasia pribadi dirinya pada Kiki, Mei langsung menanyakan itu pada orang yang paling mungkin melakukan hal itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Irni, karena cowok dia kan sahabatnya Kiki.
"Maaf Mei, tapi gue bilangnya waktu kalian belum jadian kok, itu pun karena Rizki nanya tentang keseriusan lo sama dia, biar jangan ngasih harapan palsu."
"Bagus. Bagus banget nih. Lo udah bikin gue mati kutu di depan cowok gue sendiri, hah?!" jawab Mei menahan kesalnya.
"Maaf" ucap Irni penuh penyesalan.
"Ya udahlah, nggak apa-apa."
Ya, ucapan pasaran yang biasa di ucapin seorang sahabat terhadap kesalahan sahabatnya sendiri. Terpaksa memaafkan.
_bersambung_
Category Story : True Story
Perasaan Seorang Pengemis
.
Di jalan raya, lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Semua kendaraan berhenti, dari yang pakai sepeda, becak, motor, mobil, bus sampai ke truk.
Tampak seorang kakek dengan pakaian lusuhnya, telapak tangannya di buka lebar.
Dia berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain, sorot matanya memendam rasa sedih, telapak tangannya meminta sedikit uang kecil untuk membeli sebungkus nasi.
Dalam hati kecilnya dia berkata "Lihatlah saya, kalian tak akan menjadi miskin bila memberi saya selembar uang kertas bernilai 1000, atau satu logam uang bernilai 500."
Kakek itu berjalan ke arah mobil hitam yang kaca jendelanya tertutup rapat.
"Permisi bu." ucap kakek itu dengan nada rendah.
Kaca jendela itu terbuka, seorang perempuan berumur kira-kira 39 tahun dengan make up berlebihan, anting emas terpasang di kedua telinganya dan kalung 24 karat melingkar di lehernya.
Saat memberikan selembar kertas bernilai 1000, 3 gelang emas menghiasi tangannya.
"Nih! Ngeganggu orang aja! Makanya cari pekerjaan dong!" maki ibu itu.
"Makasih, maaf bu bila saya mengganggu." kata kakek itu dengan nada penuh penyesalan.
Ibu itu hanya menutup jendela mobilnya tanpa berkata sedikit pun.
Sudah sering kakek itu dicaci maki seperti tadi. Yaa, memang itu resiko seorang pengemis. Dianggap mengganggu dan dikucilkan. Bahkan dicaci maki oleh orang-orang.
Sebenarnya dia pun tidak pernah ingin menjadi seorang pengemis. Yang meminta belas kasihan pada orang-orang.
Kalau bukan untuk memberi makan istri, anak dan cucunya, mungkin dia tidak akan pernah menjadi seorang pengemis.
Dia lebih baik mati kelaparan daripada harus menjual harga dirinya agar diberi uang yang tak seberapa.
Dia menjadi pengemis bukan karena dia nggak pernah bekerja keras mencari pekerjaan.
Sudah banyak pekerjaan yang dia lakukan, dari menjual makanan, mainan anak, balon air, dan lain-lain. Tapi sayang dia bangkrut, modal untuk membeli dagangan lebih besar dari keuntungan yang di dapat.
Apalagi umurnya sekarang sudah tua. Tidak bisa banyak bergerak, tentu saja dia tidak bisa bekerja yang berat.
"Sampai kapan aku harus menjadi seorang pengemis? Apa sampai sisa umurku?"
Kakek itu duduk merenung di trotoar jalan. Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Semua kendaraan yang berhenti berebut untuk jalan.
Category Story : True Story
