Tampilkan postingan dengan label Story : True Story. Tampilkan semua postingan

ANGGA and NADYA


.


                             Cerpen By Annisa Aprilia dan Annida Sholihah




Desember 2013

Pernahkah kalian menyukai saudara kalian sendiri? Bukan saudara kandung, lebih mengarah ke saudara sepupu. Mungkin hanya satu perbanding sepuluh orang yang mengalami hal tersebut, dan salah satunya adalah Nadya Sherliana.
Sejak kecil. Gadis dengan suara imut dan sering dipanggil ‘Nadya’ oleh teman-temannya itu diam-diam menyukai Angga Prasetyo, sepupu jauhnya. Umur mereka sama, cuma berbeda bulan. Dari kecil, mereka selalu bersama. Hingga saat mereka berdua kelas 4 SD, Nadya harus pindah ke Bekasi karena ayahnya dipindah tugaskan di Kota Hujan itu.
Sejujurnya Nadya tak pernah rela meninggalkan kota kelahirannya, Gresik. Terutama meninggalkan Angga, orang yang selama ini selalu menemaninya, baik di rumah maupun di sekolah. Orang yang tahu segala kekurangannya, hal yang sangat Nadya benci -berbicara di depan umum- Orang yang selalu ada di sisi Nadya kapanpun, dan d imanapun.
Sekarang, dia tinggal di Bekasi. Memulai kehidupan baru, pertemanan baru, belajar mengenal sifat-sifat orang Bekasi, dan hal-hal lain. Dan bahkan Nadya mau tak mau harus menjalani hari-hari sendirian, tanpa ada Angga di sisinya. Itu terasa sangat membosankan. Bahkan bagi sebagian orang lain.
***

Sudah hampir 7 tahun mereka berpisah, beda kota dan sekolah. Mereka tumbuh bersama-sama saat lahir dan terpaksa berpisah karena keadaan yang tak terduga.
Walaupun setiap liburan sekolah atau bahkan saat lebaran mereka bertemu. Entah itu keluarga Angga yang ke Bekasi ataupun sebaliknya. Tetap saja, Nadya dan Angga tidak lagi bisa tumbuh bersama-sama. Mereka menjalani kehidupannya masing-masing.
Sepertinya liburan sekolah tahun ini, keluarga Nadya memutuskan untuk berlibur ke Gresik. Sudah dari beberapa hari yang lalu Nadya menanti-nantikan waktu yang menurutnya jarang terjadi, setiap hari dia selalu merengek kepada papanya agar liburan sekolah yang akan datang agar sekeluarga dapat berlibur di Kota masa kecilnya. Semua penolakan ayahnya tidak membuat Nadya putus asa. Hingga akhirnya usaha Nadya tak sia-sia. ayahnya-pun setuju. Syukurlah.
Sengaja Nadya tidak memberitahu Angga tentang rencananya itu, ia ingin membuat kejutan. Nadya hanya menghela nafas panjang saat memikirkan hal lain. Mengenai ayahnya yang sudah memberitahu ayah Angga, dan sialnya. Ayahnya Angga sudah pasti memberitahukan hal itu ke seluruh keluarganya, tentu saja termasuk pada Angga.
Perjalanan yang memakan waktu lama tidak membuat Nadya bosan. Ingin sekali rasanya dia mengirim sms ke kontak Angga, tapi lagi-lagi Nadya buru-buru menepis keiginannya itu.
Jaga Image Nad. Ingat rencana awal.
***

Sesampainya di Gresik, khususnya di rumah Angga. Keluarga Nadya disambut hangat oleh keluarga Angga. Mereka dipersilahkan masuk dan mama Angga bahkan langsung menunjukkan kamar untuk Nadya. Perjalanan yang memakan waktu hingga kurang lebih 8 jam tentu saja melelahkan.
Nadya tidur dengan kakak dan adiknya, yang dua-duanya cewek. Yap. Semua kakak-beradik di keluarga Nadya cewe, tak ada satu-pun yang cowo. Sebaliknya keluarga Angga cowok semua. Umur mereka pun sama, kakak Nadya seumuran dengan kakak Angga, Nadya seumuran dengan Angga, hanya adik Nadya yang beda 1 tahun dari adik Angga yang lahir lebih dulu.
Saat ini, Nadya berada di sebuah kamar ber-cat warna biru, kamar yang sudah seperti layaknya kamar Nadya sendiri. Dari dulu sampai sekarang. Kamar ini tak pernah berubah. Tak ada yang tau bahwa kamar ini sengaja tak di ubah, dari segi dekorasi.
Dulu, saat Nadya masih tinggal di Gresik, jika dia sedang ngambek dengan kedua orang tuanya dia selalu menginap di rumah Angga. Tapi tentu saja mama Angga memberitahu mama Nadya agar tidak cemas, mama Nadya pun hanya dapat menggelang-gelengkan kepalanya dan meminta maaf karena sudah membuat repot. Keluarga mereka sudah sangat dekat di bandingkan dengan keluarga yang lain.
Ada yang aneh. Ketika keluarganya datang mereka memang disambut dengan keluarga Angga. Ada  Pakdhe, Budhe, kak Reno dan bahkan adiknya, tapi dia tidak melihat Angga disitu.
 Kemana dia? Sedang tidur? Jam segini?
Nadya menatap jam dinding di sudut jendela. Saking penasarannya, setelah selesai merapikan baju di dalam lemari. Nadya langsung melangkah keluar kamar dan mendekati mamanya Angga.
“Budhe, Angga kemana? Lagi tidur ya?” Tanya Nadya polos
“Ohh, Angga tadi pagi udah berangkat sayang”
“Berangkat? Kemana?” Ekspresinya masih bingung, Nadya menatap Budhe-nya dengan pandangan bertanya-tanya.
“Katanya sih dia mau nginep sama teman-teman sekelasnya.”
 “Hah? Nginep? Berapa hari bude?”
 “3 hari sayang”
“Ya udah deh, Nadya ke kamar dulu yaaa ” Nadya tersenyum terpaksa.
Angga lagi nginep sama teman-teman sekelasnya. Dia gak ada di sini. Terus buat apa aku ada di sini kalo gak ada Angga? Kesel!
Nadya membenamkan wajahnya di atas bantal. Banyak yang ingin dia ceritakan pada Angga. Tentang SMA barunya, teman-teman barunya, dan sahabat barunya. Nadya merasa lelah, jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wib, tanpa disadari dia tertidur pulas.
***

3 hari berlalu sejak dia menginap di rumah Angga.
Hari-harinya disibukkan dengan belanja bareng mamanya Angga. Karena Budhe-nya itu tidak mempunyai anak perempuan satu pun, jadi setiap pergi berbelanja pasti selalu saja sendirian. Anak cowok mana mungkin mau ikutan belanja, membayangkannya sedikit-pun mereka tak sudi.
 Budhe-nya diam-diam menunggu saat liburan sekolah atau lebaran. karena saat itu dia bisa pergi berbelanja bareng Nadya, kakaknya dan juga adik-adiknya. Tantenya termasuk royal, dia membelikan apapun yang diinginkan mereka bertiga. Tapi tentu saja mereka tidak pernah memanfaatkan kebaikan budhenya itu, mereka hanya membeli satu barang dari beberapa barang yang ditawarkan.
Selesai berbelanja, mereka kembali ke rumah, dari jauh tampaknya mereka sangat senang dengan saling tertawa dan memegang kakinya masing-masing. Ya, hampir 4 jam mereka berkeliling mall. Kapan lagi bisa merasakan moment seperti ini?
Aaaaa Terima kasih banyak Budhe ^-^
Langkah Nadya terhenti saat ia melihat Angga yang sedang memainkan gitarnya di teras depan. Dia pun menghampirinya.
“Angga?” Tanya Nadya hati-hati. Orang di depannya tampak berubah banyak.
“Eh kamu, udah belanjanya Nad?” ucapnya sambil melirik plastik belanjaan yang dibawa Nadya.
“Udah, nihhhh :D” Nadya memamerkan belanjaannya itu di depan muka Angga dengan ekspresi lucu yang hanya di tunjukkan di depan Angga.
“Dasar cewek…” Balas Angga yang tampaknya terdengar hanya seperti gumaman.
“Oya, kamu bisa main gitar?”
“Bisa dong.”
“Sejak kapan?”
“Sejak masuk SMA, aku juga punya band loh” kata Angga bangga.
“Kok gak pernah cerita”
“Ya, aku pikir kamu gak tertarik. Mau aku ajarin gak main gitar?”
Tertarik kok. Aku tertarik apapun tentang kamu.
“Mauuu, tapi yakin kamu mau ajarin aku? Aku kan serada susah buat belajar, apalagi belajar gitar. Aaaah udah gaperlu aaah” Nadya pura-pura sok jual mahal. Tapi akhirnya dia tertawa di ikuti tawa Angga.
“Iya, yakin. Aku juga tau kok, kamu kan harus diajarin berulang kali dulu baru ngerti” Angga tersenyum mengejek, dan berheti tertawa saat itu juga.
“Ihhh…”
Nadya menjitak kepala Angga dan menjulurkan lidahnya. Lalu masuk ke dalam tanpa menoleh kembali. Dia sempat mendengar Angga berkata, “Bercanda.. Kalo mau diajarin besok pagi aja, kamu juga kayaknya capek habis belanja.”
Mendengar kata-kata tadi membuat Nadya tak bisa berhenti tersenyum. Mereka memang selalu berantem –setiap saat- tapi tidak akan berlangsung lama. Angga selalu mengalah, meminta maaf, dan mengajaknya mengobrol kembali. Tak akan asyik tanpa ada pertengkaran kecil dalam keseharian mereka.
***

Malam harinya, saat Nadya lagi duduk di teras sambil teleponan dengan sahabatnya di Bekasi, Angga datang dan duduk di sebelahnya.
“Angggaaa… coba ngomong hallo… Begitu” Nadya mendekatkan Hpnya ke mulut Angga.
“Hallo…?”
“Hahaha, tuh Niken, denger kan suara Angga? Angga ini Niken, cantik loh orangnya…”
Angga hanya duduk di samping Nadya, melongo tak karuan mendengarkan cewek-cewek mengobrol melalui HPnya. Melihat itu, Nadya pun mengakhiri pecakapannya dengan Niken.
“Iyaa, dadah Niken”
Sekilas Angga melirik Nadya, masih dalam ekspresinya yang sulit di jelaskan.
“Anggaaa, Nadya mau cerita.. Nadya punya sahabat namanya Niken, baik orangnya. Nadya juga punya teman-teman baru, tapi belum terlalu akrab, kamu tau sendiri kan Nadya susah akrab sama orang baru.”
“Hmm, iya, trus?”
Sejak dulu sampai sekarang selalu begitu jawabannya. Seakan-akan Angga tidak tertarik dengan cerita Nadya. Kadang ada saatnya Nadya merasa kesal dengan sikapnya, tapi lambat laun Nadya belajar bertahan dan mulai memakluminya.  Dia hanya berpikir mungkin saja cowok begitu, gak peka, gak bisa memberi tanggapan yang lebih menyenangkan.
“Kok diam?” tanya Angga heran.
“Gapapa ko Ngga. Udah malam, tidur yuk. Besok jangan lupa ajarin Nadya main gitar ya. Goodnight!” Nadya meninggalkan Angga yang masih duduk menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Diam-diam Angga tersenyum.
***

Pagi-pagi Nadya sudah dibangunkan oleh kak Siska, kakak perempuannya. Dia membuka sedikit matanya dengan susah payah, tampak kak Siska yang sudah rapi dengan baju olahraga, di sebelahnya -adik perempuannya- Amel, sudah siap juga memakai baju olahraga yang sama seperti Kak Siska.
“Ayo bangun! Kita jogging!”
Dengan berat hati Nadya akhirnya-pun bangun. Kalau saja sekarang dia bukan ada di rumah Angga, pasti dia akan menolak tegas ajakkan jogging kak Siska. Menurutnya, waktu tidur bagi anak sekolah itu limited edition, jadi waktu liburan gini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk tidur. Matanya masih setengah terpejam, Nadya berlari kecil menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Nadya memakai baju olahraga dan tak lupa kerudung segitiganya. Dia keluar kamar, melihat Kak Siska, Amel, Angga, Farhan, dan Kak Rian sudah menunggunya di depan.
“Ayo kita jogging” ucap Nadya memberi semangat. Spontan. Kak Siska dan Amel hanya bisa begong melihat perubahan sikap Nadya.
Mereka jogging berpasangan, Kak Siska dan Kak Rian, Amel dan Farhan, dan tentu saja Nadya dan Angga. Dan siapa lagi yang mengusulkan ‘jogging pasangan’ jika bukan Nadya? Orang yang di maksud hanya bisa senyum-senyum sendiri menahan malu.
Jam menunjukkan pukul 07.10 WIB.  Mereka-pun istirahat dan memesan bubur ayam di pinggir jalan untuk menghilangkan rasa lapar yang sudah dari tadi mengganggu acara jogging mereka. Setelah dirasa cukup, Kak Rian mengusulkan agar segera kembali ke rumah.
“Anggaaa, ayo ajarin main gitar!!!” teriak Nadya, 10 menit setelah menginjakkan kaki di rumah.
“Iya, nanti aku ambil gitarnya dulu”
Angga masuk ke dalam rumah, beberapa menit kemudian dia keluar lagi sambil membawa gitar coklatnya. Dia duduk di teras sebelah Nadya. Mereka berdua masih mengenakan pakaian yang sama –pakaian olahraga-
“Nih, yang gampang dulu, kunci C” Angga memberitahu Nadya kunci C.
Pelan-pelan Angga memberitahu beberapa kunci gitar. Nadya hanya manggut-manggut saja melihatnya.
“Coba nih Nad” Angga memberikan gitarnya pada Nadya. Dengan sigap Nadya mengambilnya dan mencoba kunci-kunci gitar yang baru saja dikasih tahu Angga.
“Salah, telunjuk kamu agak keatasan”
“Gini?”
Setengah jam Nadya belajar gitar, dimulai dari kunci-kuncinya, tapi tidak semudah perkiraannya. Buktinya dia belum bisa semua kunci, dia hanya bisa kunci C, kunci G, kunci E, kunci A dan kunci D. Angga hanya menghela nafas lelah menatap Nadya yang tak mau menyerah.
“Udah dulu deh belajar gitarnya. Nih sekarang aku main gitar, kamu yang nyanyi.” kata Angga, dia mengambil gitarnya.
“Ihh, gak mau, gak bisa nyanyi ah”
Nyanyi? Hal yang menyenangkan, Nadya suka sekali benyanyi, tapi itu hanya untuk didengarnya sendiri. Kalau untuk di dengar orang lain, terutama Angga.???
Gak, aku gak akan mau!
“Ya udah nyanyi yang kamu bisa aja, apa?”
“Ihhh gak peka banget sih, udah main-main aja gak usah pake dinyanyiin.”
“Gak seru, enakan dinyanyiin”
“Ya udah kamu aja yang nyanyi” Nadya mulai ngambek,
“Kan aku udah main gitarnya, masa nyanyi juga, trus kamu ngapain?” Masih keras kepala, Angga tetap tak setuju.
“Jadi penonton setia aja yaa”
Akhirnya Angga pun mengalah. Dia menyanyikan lagu Bruno Mars, Rest of My Life. Nadya pelan-pelan mengikuti Angga menyanyi, hanya dengan suara pelan, dia tidak mau merusak keindahan permainan gitar dan suara Angga. Secara bergantian, Angga bernyanyi sambil sesekali menatapnya lalu menatap gitarnya. Cara permainan gitar yang biasanya hanya di lakukan oleh pemeran tokoh dalam drama-drama. Aaaaah~ Indah sekali.
***

Tanpa terasa sudah 1 minggu keluarga Nadya menginap di rumah Angga. 3 hari lagi mereka sudah masuk sekolah. Memasuki semester baru. Jadi, hari ini Nadya dan keluarganya memasukkan baju dan barang-barang  tertentu ke dalam koper sebelum pamit untuk pulang.
Kembali ke Bekasi lagi, berpisah sama Angga lagi. Membosankan.
“Hati-hati yaaa…” ucap mamanya Angga.
“Iya, makasih banyak Budhe maaf, banyak ngerepotin ya”
“Gak kok sayang”
“Nanti lebaran gantian dong kalian yang ke Bekasi ”
“Oke deh! Siap! hehe”
Orang tua Angga dan orang tua Nadya saling mengucapkan kata perpisahan. Nadya melirik ke arah Angga, menatap matanya, kata orang mata itu gak pernah bohong, selalu jujur. Dan dari mata Angga tidak tampak terpancar rasa kesedihan, apalagi kehilangan.
Aaaaah sudahlah Nad. Jangan berlebihan.
Nadya tersenyum kecut, dia tahu, dia hanya bertepuk sebelah tangan. Angga tidak mungkin berpikir hal yang sama dengan dia, menyukai saudara sepupu? Impossible.
Nadya mengalihkan perhatiannya ke arah Budhe dan mamanya yang saling berpelukan. Tiba-tiba sebuah tangan merangkulnya dan terasa hangat. Kak Rian. Kak Rian hanya tersenyum dan mengucapkan sampai jumpa tahun depan. Tangis Nadya hampir saja pecah. Nadya hanya bisa mengangkat bahu. Mencoba bersikap dewasa di depan mereka.
***

Beberapa bulan kemudian Nadya mendengar kabar buruk dari keluarga Angga. Mama dan ayah Angga telah bercerai. Alasan perceraian itu karena papa Angga selingkuh dengan teman kerjanya di kantor.
Ya ampun Angga, apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata perceraian itu?
Nadya langsung mengambil HPnya dan menelepon Angga. Telepon itu tidak dijawab. Nadya beranggapan Angga memang tidak ingin menjawabnya. Tapi dia tidak putus asa, dia tetap berusaha meneleponnya, hingga pada deringan ke-6, Angga pun menjawab teleponnya.
“Hallo?” jawab Angga malas
“Hallo, Angga?”
“Udah dengar ya kamu?” tanya Angga lirih memotong kata-kata Nadya.
“Ya gitu deh”
“Haha, biasa aja nanggepinnya. Itu kan cuma cerai, bukan meninggal, jadi aku masih bisa ketemu ayahku.” Suaranya datar. Tetap saja ada yang ganjil.
Angga pembohong! Mungkin dia bisa bilang kayak gitu, tapi dari suaranya terdengar nada kesedihan. Nadya ingat Angga pernah berkata bahwa dia bangga dengan sosok ayahnya dan dia ingin menjadi seperti ayahnya itu. Tapi setelah dia tahu ayahnya ternyata selingkuh, dia pasti sangat kecewa. Terlalu kecewa untuk seorang seperti Angga.
“Oy, masih disitu kan?” tanya Angga cemas, karena sejak tadi dia tidak mendengar suara Nadya.
“Kalau mau nangis, nangis aja Ngga, gak perlu pura-pura tegar gitu.” Ucap Nadya bijak
“Apa sih, sejak tinggal di Bekasi kamu jadi lebay ya haha” Suaranya masih sama, bahkan tawa Angga-pun tampak sumbang.
“Gak usah maksain buat ketawa, Ngga. Sama sekali gak lucu” Nadya mulai gemas dengan tingkah sepupunya itu.
“Udah ah, aku mau mandi dulu, bau! Dah Nadya” Angga menutup teleponnya begitu saja.
Mau mandi? Alasan yang aneh.
Nadya melirik jam dinding di kamarnya, jam 11.00 WIB. Angga memang termasuk cowok yang paling rajin mandi, dia selalu mandi pagi, gak mungkin jam segini dia baru mau mandi. Angga memang pembohong yang payah! Dia pasti sengaja menghindari Nadya.
Menurut kabar yang Nadya dapat dari mamanya, Angga, kak Rian dan Farhan tinggal bersama Budhe. Ayah Angga pekerjaannya tidak tetap, selalu pindah-pindah kota. Kalau anak-anaknya ikut ayahnya, sekolah mereka pun harus pindah-pindah, dan itu tidak baik. Mungkin alasan itulah yang menjadi alasan lain kenapa Pakde bisa berbuat hal begitu. Bahkan Pakde jarang bertemu keluarganya. Kasihan mereka…
Awalnya ayah Angga masih suka menghubungi Angga dan saudara-saudaranya, tapi beberapa tahun kemudian, ayah Angga semakin jarang menghubungi mereka.
Perlahan-lahan Angga pun mulai terbiasa hidup tanpa seorang ayah, tanpa kepala rumah tangga. Yang dia pikirkan sekarang adalah membahagiakan satu-satunya orang yang dia sayang, mamanya.
***

EPILOG

Aku sudah di akhir kelas 12. Cepat sekali waktu berlalu…
Tanggal 14 April kemarin. Mereka baru saja melaksanakan UN, dan seminggu yang lalu mereka baru saja menerima hasilnya. Mereka berdua lulus, nilai UN Nadya lebih besar dari Angga, karena itu Angga pun meminta Nadya  untuk mentraktirnya sebagai perayaan. Nadya setuju-setuju saja.
Sekarang, mereka sama-sama sedang menunggu jam 20.00 WIB, di tempat yang berbeda, di waktu yang kurang dan kelebihan 1 atau 2 menit-an. Untu apa? untuk melihat pengumuman SNMPTN. Pengumuman yang kita tunggu-tunggu. Khususnya anak kelas 12.
5 menit lagi…
Deg-deg-deg-deg-deg
Nadya dan Angga sudah siap di depan laptopnya masing-masing, Bekasi dan Gresik, di layar laptop mereka, terlihat  situs SNMPTN. Perasaan mereka tak karuan, Angga sudah tak sabar. Di lain tempat Nadya hampir menangis histeris. Tak lupa mereka berdoa kepada Allah SWT agar diterima di PTN yang mereka inginkan.
Pukul 20.00 WIB…
Angga dan Nadya mengetikkan passwordnya masing-masing, menunggu loading, dan terpampanglah pengumuman SNMPTN >,<
Mereka menatap layar dengan ekspresi yang sama.
“Alhamdulillah…” Ucap salah satu dari mereka
Telepon berdering.
“Hallo, gimana hasilnya?” Tanya Nadya Antusias
“Gagal! Kamu?” Jawab Angga dengan Intonasi yang datar.
“Alhamdulillah keterima. Ya udah jangan sedih Ngga, semangat untuk SBMPTN, pasti bisa!”
“Sedih? Siapa yang sedih? SBMPTN? Buat apa?” Angga tertawa diam-diam di tempatnya
“Buat ikut tes PTN lah” Tampaknya Nadya tidak sedang dalam mood bercanda.
“Ngapain, aku gak keterima dipilihan jurusan satu, tapi keterima dipilihan jurusan kedua tau. Haha” Akhirnya Angga mulai tertawa terbahak-bahak saking lucunya
“Jadi? Kita sama-sama kuliah di UNDIP?” tanya Nadya untuk memastikan. Masih tak percaya. Kecil sekali kemungkinan di terima di pilihan kedua.
“Iya Nadyaaa. Sama-sama di Undip, tapi beda jurusan. Puas?”
Nadya berpikir ulang, dari sekian banyak orang, mereka berdua sama-sama Diterima di UNDIP walaupun beda jurusan. Tetap saja satu universitas! Tapi kemungkinan untuk sama-sama satu kampus-kan sangat kecil. Aneh sekali ya kan?
Apa mungkin ini artinya kita berjodoh? Haha, gak mungkin Nad. Gak mungkin banget!
Flashback ke percakapan Nadya dengan Angga sebulan yang lalu, saat itu Angga meceritakan dengan gembira dipenuhi rasa malu kalau dia sudah punya pacar di Gresik. Namanya Luna.. Nadya malah membayangkan Luna Maya, tapi setelah melihatnya di foto page FB, ternyata Luna wanita yang cantik. Yahhh.. Harapannya sudah pupus, dia tidak mungkin pacaran dengan Angga, tentu saja tidak, mereka saudara sepupu. Tapi, tak pernah Angga berbicara dengan nada malu-malu seperti itu. Tak pernah. Tentu. Kecuali hari itu.
Udah ah, jangan mikirin Angga terus, aku punya kehidupan, kehidupan baruku di UNDIP! Angga tetap sahabat aku! Sepupu aku! Aku cuma nge-fans! Move On Nad!
“Halloo, Nad kamu gak pingsan kan?” Tanya Angga di seberang telepon dengan nada bercanda.
“Gak dong, tunggu aku di UNDIP ya! Bye”
Nadya melihat masa depannya cerah, secerah hatinya saat ini. Dia senang, dia bisa membuat orang tuanya bangga. Dia pun bisa menyusul kak Siska yang sudah lebih dulu masuk UNDIP. Dia akan berusaha menjadi mahasiswi komunikasi yang baik dan membahagiakan keluarganya dan tentu saja, ada Angga di sana. Gak ada lagi kata “Bete” dalam kamus hidupnya.

SELAMAT DATANG KEHIDUPAN BARU ^_^


Makasih buat sahabatku, Annida Sholihah : http://annidatorytory.blogspot.com/

Kisah Cinta Khalifah Ali Bin Abi Thalib Dan Fatimah Az-zahra


.

Bismillaahirrahmanirrahiim

Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Dan akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathimah dan kakaknya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya. Setelah Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat berusaha meminang Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi Nabi menolak dengan lemah lembut.

Lalu Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah untuk melamar, ketika nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”

“Tidak ada ya Rasulullah,” jawabnya.

“Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” tanya Rasulullah SAW lagi.

“Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawab Ali.

“Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar.” kata beliau.

Kemudian Ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham, Ali pun memberikannya kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali:

Fatimah : “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”.

Ali          : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”

Fatimah   : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita”.

Ali           : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.

Fatimah   : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah”

              Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.

              Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi di sisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.

              Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”.

              Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. 
              Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”.

              Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”.

              Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.

              Fatimah juga meneteskan air mata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu, namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”

              Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah."

              Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah”.

              Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah bilang kau sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”.

              Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinnya”

              Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”

              Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”

              Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.
             

Subhanallah, Betapa Indahnya Kisah Cinta antara Ali Bin Abi Thalib Dan Fatimah Az-Zahra. Maha Suci Allah, Dialah yang mengatur segalanya. Dialah yang telah mengatur jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut dari setiap insan di Dunia.. سُبْØ­َانَ اللَّÙ‡ِ




Pacaran Itu Bukan Karena Kasihan, Mei (2)


.

Malamnya Mei langsung mojokin Kiki tentang sukarelawan sumber informasinya itu yang udah mengaku di hadapan Mei langsung tadi pagi.
"Informan kamu Irni kan?" kata Mei to the point.
"Bukan."
"Ok, Rizki kalau gitu?"
"Bukan."
"Capek ya ngomong sama kamu. Pinter bohong banget."
"Aku nggak bohong."
"Jelas-jelas Irni udah ngaku di hadapan aku langsung, kamu masih aja bilang bukan. Liar!"
"Kamu juga pembohong!"
"Apa?"
"Di social networking kamu yang lain, jelas terlihat semua kebohongan kamu."
"Twitter?"
"Iya."
'Oh damn!!! Kiki kan nggak punya twitter, kenapa dia bisa tau isi tweet-tweet gue. Mati kutu 2 kali gue!' kata Mei dalam hatinya.
"Kamu baca apa?" akhirnya pertanyaan seperti itu terlontar dari mulut Mei.
"Semua."
Ingin sekali Mei menutup teleponnya saat itu saking malunya.
Tapi siapa tau Kiki hanya menakut-nakuti saja, dengan sedikit keberanian, Mei akhirnya bertanya
"Contohnya?"
"Yee tadi sempat ngobrol sama dia di kantin, hmm tapi bentar banget, di ganggu sama si ambon sih."
'Mampus gue!' Kali ini Mei speechless total, nggak tau mau ngomong apa lagi.
Sampai akhirnya kiki berkata dengan nada datar.
"Ya udah nggak usah di pikirin, selama masih wajar, nggak akan aku permasalahin, tidur gih!"
Tutttt.....
Telepon pun terputus...
Mei lega dengan itu, untuk sementara dia terbebas dari keterpojokan yang dia mulai sendiri, yang malah jadi senjata makan tuan untuk dirinya. . Sial!
***

Hari demi hari, Mei sengaja buat Kiki agar mutusin Mei.
Mei sengaja update tweetnya pakai lirik dari lagu geisha yang 'Takkan pernah ada', yang jelas-jelas Mei nyebutin untuk siapa lagu itu dia tujukan, yah, buat Tian. Siapa lagi.
Puncakmnya Mei nekat update tweet pakai lirik lagu dari kotak yang pelan-pelan saja. Yang secara garis besar makna lagu itu adalah minta putus. Mei membangunkan macan yang sedang tidur. Benar-benar bikin masalah.
Malamnya Kiki sms Mei.
"Pengen nelepon, minta waktu."
Tapi karena waktu itu Mei lagi sibuk belajar matematika untuk UAS besok, maka Mei acuh tak acuh menerima telepon dari Kiki.
"Halo, ada apa, Ki?" tanya Mei tanpa dosa.
"Mau kamu gimana?"
"Hah? Maksudnya?"
"Yah tentang kita, bla,bla . . "
Mei tak begitu memperhatikan penjelasan Kiki. Dia sibuk dengan rumus-rumus matematika yang sulit dan membingungkan.
Sadar bahwa ucapannya tak di gubris oleh Mei, Kiki marah dan langsung memutuskan teleponnya.
Mei yang sibuk sendiri baru sadar bahwa teleponnya sudah terputus.
Mei akhirnya menelepon balik Kiki.
"Kenapa di tutup?" tanya Mei.
"Huh. Kamu sibuk sendiri." jawab Kiki kesal.
"Maaf, kan tadi aku udah bilang lagi belajar matematika untuk besok."
"Ya,ya,ya." kata Kiki malas-malasan.
"Kok gitu?"
"Aku mau ngomong serius."
Deg!!!
Mei sudah tahu persis arah pembicaraan Kiki akan kemana. Mei menarik nafas panjang, agar dirinya siap untuk mendengarkan semuanya.
"Mau ngomong apaan?"
"Kamu udah tau kan apa yang mau aku omongin."
"Hah? Apaan?" Mei berbohong.
"Ya udahlah sendiri-sendiri aja kalau gitu." ucap kiki.
Dan dengan gampang Mei menjawab "Ohh, ya udah."
Suasana pun hening sejenak, hingga Mei bertanya dengan gaya sok lugunya dan tanpa rasa bersalah.
"Emm, tapi kita nggak musuhan kan?"
"Nggak tau lah, udah malem, mau tidur." tut.. tut.. tut..
Sambungan telepon pun terputus.
"Hufft" Mei cuma bisa menghela nafas pasrah sama resiko yang akan diterimanya.
Finally,, cinta Mei dan Kiki yang baru 3 minggu pun putus.
Di sekolah mereka perang dingin,, seperti nggak saling kenal. Ya, mungkin ini yang terbaik..
***

7 bulan kemudian, Mei mendengar kabar dari Ika kalau papanya Kiki meninggal.
Mei bingung, mau ngucapin turut berduka cita atau nggak.
Dia sibuk nanya ke teman-temannya.
Akhirnya, dengan keputusan yang amat sangat bulat.
Mei mengirim sms ke kiki sebagai ungkapan turut berduka citanya, sekaligus memberinya semangat dan terus bersabar.
Smspun terkirim.
Semenit, 2 menit, 3 menit, sampai berjam-jam. Nggak ada balesan dari Kiki.
Dalam hati Mei "Kiki benar-benar nggak maafin gue, bilang makasih aja nggak. :("
Setelah kejadian itu Mei sempeat kesel, tapi mau gimana juga itu semua emang resiko yang Mei buat sendiri..
Mei menjalani kehidupannya seperti biasa. Bahkan mungkin Mei sudah lupa sama kejadian itu. Ckckck..
***

Besok sudah masuk hari pertama puasa di tahun ini.
Dengan ragu-ragu Mei mengirim ucapan ramadhan meminta maaf lahir dan batin ke Kiki.
Dia sudah pasrah kalau Kiki nggak bakal bales smsnya itu.
Tapi,, 5 menit berlalu, HP Mei bergetar tanda ada sms.
Saat dibuka, Suprise!!!
Kiki ngirim ucapan "Met puasa mohon maaf lahir & batin juga."
Mei senang, karena ternyata Kiki sudah maafin Mei.
Syukurlahhh...

_Tamat_

Pacaran Itu Bukan Karena Kasihan, Mei (1)


.

Entah mengapa Mei dan Kiki bisa pacaran.
Padahal dalam hati Mei, nggak ada rasa suka sedikitpun pada Kiki.
Mungkin karena menghargai Kiki yang dah baik banget sama dia sehingga Mei nggak tega buat menolaknya, maka Mei nerima Kiki.
Mungkin juga, Mei takut kehilangan orang yang selama ini meramaikan inbox telepon genggamnya.
Atau mungkin karena Mei iri pada teman-temannya yang sudah pada punya pacar.
Atau, mungkin juga Mei capek dengan status 'Jomblo'?? Entahlah. .
"Semoga itu keputusan yang tepat." kata Mei dalam hati.

Sehari, dua hari...
Masih berjalan seperti biasa.
Smsan tiap hari, mulai panggil nama sampai sayang-sayangan, dari basa-basi nanyain lagi apa sampai ngegombal. . Tapi cupunya kalau ketemu mereka cuma sekedar say hello, pasang senyum manis dan berlalu begitu saja. Nggak pernah ngobrol. Canggung kali yaa.
***

Pas di kantin Mei, Ika, Dini, Irni, dan Rima lagi makan-makan sambil ngegosip.
Kiki sms Mei "Lagi dmna Mei?"
"Lagi makan2 nih ma tmn."
"Wih, gak ngajak2."
"Haha."
"Pulang bareng yuk yangg!"
"Hah? Masih lama loh aku pulangnya"
"Iya gak pa2, aku tunggu diparkiran ya."
"Hmm, Ok deh"
Mei langsung pamit ke teman-temannya. Ditanya mau kemana, Mei cuma senyum lalu pergi meninggalkan teman-temannya.
"Cieee..."
"Prikitiww!!!"
"Cuitt... Cuitt..."
Ledek teman-temannya. Mei cuma mnggeleng-gelangkan kepalanya menanggapi semua ledekan teman-temannya itu.
Baru pertama kali ini Mei pulang bareng Kiki setelah mereka jadian.
(Mei pernah pulang bareng sama Kiki sebelum mereka jadian, waktu habis pulang dari burger. Padahal Dini nggak ngebonceng siapa-siapa, tapi kenapa mesti manggil Kiki buat nganter Mei. Pasti mereka sengaja kayak gitu, buat nyomblangin Mei dan Kiki gitu deh. Sampai akhirnya, Kiki nembak Mei di hari itu juga. Huftt...)
Mei sudah sampai di parkiran, dia mencari-cari Kiki.
Terlihat Kiki lagi duduk di motornya bersama teman-teman cowoknya.
Dengan ogah-ogahan Mei nyamperin Kiki.
"Mei? Cepet amat. Katanya lama." kata Kiki yang baru sadar kalau Mei sudah berdiri di sampingnya.
"Jadi kamu mau aku lama gitu?" tanya Mei jutek.
"Ya nggaklah. Lebih cepat lebih baik." kata Kiki meniru kata-kata salah satu calon Presiden tahun 2009.
"Ohh."
"Ya udah yuk. Duluan ya cuy!" pamit kiki pada teman-temannya. Yang di bales anggukan dan kata-kata "Yoo!" dari teman-temannya.
Mei dan Kiki pun pergi dengan dibonceng motornya Kiki. Di perjalanan? Jangan tanya deh. Kebanyakan diem.
Akhirnya sampai di rumah nenek Mei.
Mereka berdua saling pamit. Mei merasa lega. "Hhhh..."

Hampir 2 mnggu Mei dan Kiki baik-baik saja, nggak ada masalah dalam hal pacaran mereka.
Tapi masalah pun muncul.
Malam hari Kiki nelepon Mei,
"Mei, masih suka sama Tian?" tanya Kiki dengan suara pelannya.
"Hah?" Mei kaget banget tiba-tiba ditanya kayak gitu.
"Kamu masih suka sama Tian?" ulang Kiki.
"Tian? Kok kamu tau?"
"Ada deh. Udah jawab aja!"
"Tau darimana?"
"Jawab dulu!"
"Tau darisapa?"
"Huft," Kiki menghela nafas, lalu melanjutkan kata-katanya "Baca dari note FB kamu."
"Yang mana?"
"Pokoknya dari situ. Nggak tau yang mana."
"Bohong! Aku kan nggak nyebutin nama."
"Ya udah jawab aja dulu pertanyaan aku tadi!"
"Pembohong!"
"Huft" kiki menghela nafas lagi "Tau dari feel aku juga, kamu tau kan feeling aku tentang kamu selalu benar, nggak pernah meleset"
Hmm. . Memang sih feeling Kiki selama ini selalu tepat ke Mei, Mei saja sampai kaget waktu Kiki nebak hal-hal yang di luar dugaan tentang Mei. . Contohnya waktu Mei pasang status FB..
"Jangan kan nyapa, melirik pun tidak, huft :("
Malamnya Kiki langsung sms nanyain status itu tentang siapa, ya Mei jawab saja "Itu teman SMP aku tadi ketemu di jalan acuh gitu aja"
Tapi Kiki malah jawab "Bohong, paling juga itu cowok yang selama ini kamu suka"
Beneran! Saat Kiki berkata seperti itu, Mei kaget banget! Jawaban Kiki tepat sasaran!
"Siapa? Ngaco" dari situ langsung saja Mei alihin topik. Sebelum Kiki nebak yang macem-macem lagi. .
Tapi kalau yang kali ini. Pikir Mei dalam hati.
"Impossible,, pasti ada orang ketiga sebagai informan kamu kan. . Ngaku!"
"Nggak ada."
"Penipu!"
"Jadi intiyna kamu masih suka sama dia?"
"Nggak juga,, itu kan perasaan zaman dulu banget,, lihat dong aku nulis note itu bulan apa,, udah lama gitu."
"Oh,, yaa. . Mudah-mudahan aja gitu"
"Emang gitu kok. Terus siapa sumber informasi kamu itu?"
"Nggak ada."
"Bohong banget. Aku tutup nih teleponnya kalau nggak mau ngaku!" ancam Mei.
Tapi dengan santai Kiki malah bilang "Tutup aja."
Hah? Tutup aja? Mei kesal dengan jawaban itu, dan tanpa basa-basi lagi Mei langsung menekan tombol merah di HPnya.
Tut.. Tut.. Tut..
Percakapan pun terhenti.
***

Setelah semalaman Mei kepikiran tentang orang yang tega ngebocorin rahasia pribadi dirinya pada Kiki, Mei langsung menanyakan itu pada orang yang paling mungkin melakukan hal itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Irni, karena cowok dia kan sahabatnya Kiki.
"Maaf Mei, tapi gue bilangnya waktu kalian belum jadian kok, itu pun karena Rizki nanya tentang keseriusan lo sama dia, biar jangan ngasih harapan palsu."
"Bagus. Bagus banget nih. Lo udah bikin gue mati kutu di depan cowok gue sendiri, hah?!" jawab Mei menahan kesalnya.
"Maaf" ucap Irni penuh penyesalan.
"Ya udahlah, nggak apa-apa."
Ya, ucapan pasaran yang biasa di ucapin seorang sahabat terhadap kesalahan sahabatnya sendiri. Terpaksa memaafkan.

_bersambung_

Perasaan Seorang Pengemis


.

Di jalan raya, lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Semua kendaraan berhenti, dari yang pakai sepeda, becak, motor, mobil, bus sampai ke truk.
Tampak seorang kakek dengan pakaian lusuhnya, telapak tangannya di buka lebar.
Dia berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain, sorot matanya memendam rasa sedih, telapak tangannya meminta sedikit uang kecil untuk membeli sebungkus nasi.
Dalam hati kecilnya dia berkata "Lihatlah saya, kalian tak akan menjadi miskin bila memberi saya selembar uang kertas bernilai 1000, atau satu logam uang bernilai 500."
Kakek itu berjalan ke arah mobil hitam yang kaca jendelanya tertutup rapat.
"Permisi bu." ucap kakek itu dengan nada rendah.
Kaca jendela itu terbuka, seorang perempuan berumur kira-kira 39 tahun dengan make up berlebihan, anting emas terpasang di kedua telinganya dan kalung 24 karat melingkar di lehernya.
Saat memberikan selembar kertas bernilai 1000, 3 gelang emas menghiasi tangannya.
"Nih! Ngeganggu orang aja! Makanya cari pekerjaan dong!" maki ibu itu.
"Makasih, maaf bu bila saya mengganggu." kata kakek itu dengan nada penuh penyesalan.
Ibu itu hanya menutup jendela mobilnya tanpa berkata sedikit pun.
Sudah sering kakek itu dicaci maki seperti tadi. Yaa, memang itu resiko seorang pengemis. Dianggap mengganggu dan dikucilkan. Bahkan dicaci maki oleh orang-orang.
Sebenarnya dia pun tidak pernah ingin menjadi seorang pengemis. Yang meminta belas kasihan pada orang-orang.
Kalau bukan untuk memberi makan istri, anak dan cucunya, mungkin dia tidak akan pernah menjadi seorang pengemis.
Dia lebih baik mati kelaparan daripada harus menjual harga dirinya agar diberi uang yang tak seberapa.
Dia menjadi pengemis bukan karena dia nggak pernah bekerja keras mencari pekerjaan.
Sudah banyak pekerjaan yang dia lakukan, dari menjual makanan, mainan anak, balon air, dan lain-lain. Tapi sayang dia bangkrut, modal untuk membeli dagangan lebih besar dari keuntungan yang di dapat.
Apalagi umurnya sekarang sudah tua. Tidak bisa banyak bergerak, tentu saja dia tidak bisa bekerja yang berat.
"Sampai kapan aku harus menjadi seorang pengemis? Apa sampai sisa umurku?"
Kakek itu duduk merenung di trotoar jalan. Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Semua kendaraan yang berhenti berebut untuk jalan.