Anything For You, Tasya


.


 By : Annisa Aprilia


Sore hari di Rumah Sakit Permata Asri, lebih tepatnya di sebuah ruang bersalin, seorang perempuan sedang berusaha untuk melahirkan. Di luar ruang bersalin itu, suami dan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun sedang menunggu dengan cemas.
“Pa, mama kenapa? Kenapa mama masuk ke ruangan itu?” anak laki-laki itu terus bertanya pada papanya.
“Mama gak kenapa-napa Reza, kamu gak usah khawatir. Sebentar lagi kamu akan punya adik.” Papanya berusaha untuk menjelaskan.
Adik?” gumam anak laki-laki itu yang bernama Reza.
1 jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin itu.
Seorang dokter keluar dan berkata, “Selamat ya pak, anak anda lahir dengan selamat dan tanpa cacat. Dia seorang perempuan.”
“Alhamdulillah, terima kasih dokter :)”
Lalu Reza dan papanya masuk ke dalam ruang bersalin. Papanya langsung menghampiri mamanya dan melihat bayi yang digendong oleh istrinya itu. Tapi Reza hanya berdiri terpaku di depan pintu ruang bersalin.
“Reza, kesini sayang.” panggil mamanya.
Reza pun berjalan mendekati mamanya, “Kenapa, Ma?” tanyanya bingung.
“Lihat Reza, ini adik perempuan kamu, namanya Tasya Dwita Vebriani. Cantikkan?”
“Iya, dia cantik kayak mama.” ucap Reza dengan jujur.
“Kamu sekarang udah jadi seorang kakak. Jaga dia baik-baik ya, jangan sampai ada yang nyakitin adikmu.” kata papanya sambil mengelus pundak anak laki-lakinya itu.
“Pasti Reza jagain dia, Pa. Reza gak akan biarin orang nyakitin adik Reza.” janji Reza.
Mama dan papanya yang mendengar janji itu hanya tersenyum dan berkata, “Anak pintar :)”
*****
16 tahun kemudian…
“Apa sih kak. Ngestalk inbox aku terus.” teriak seorang cewek sambil mengambil dengan kasar HPnya dari seorang cowok.
“Farhan itu siapa? Pacar kamu?” tanya cowok itu.
“Ihhh, bukaaaannn! Emang setiap cowok yang sms aku itu pacar aku ya? Gak lah! Udah kakak gak usah kepo gitu!”
“Ya gak, kamu kan tau kalau kamu itu…”
“Iya aku tau! Aku gak boleh PACARAN kan?!” cewek itu memotong kata-kata kakaknya.
“Heh Tasya! Kamu tuh lagi ngomong sama kakak kamu!”
“Terus? Tasya harus koprol sambil bilang WOW gitu?!” cewek yang bernama Tasya itu berlari ke kamarnya meninggalkan kakaknya.
“Dasar adik kurang ajar!”
“Aduh  kenapa sih kalian ini?” tanya mamanya.
“Itu, Ma. Si Tasya dibilanginnya malah ngelunjak.” keluh Reza dengan muka super kesal.
“Haha, ya udah kamu jangan emosi gitu. Nanti cakepnya ilang loh ;)” kata mamanya disertai jurus gombal.
“Jiah, mama malah ngegombal :D”
Akhirnya suasana yang tadinya panas berubah jadi dingin kembali. Reza masuk ke kamarnya mengambil sebuah obat dari dalam laci dan meminumnya, setelah itu dia menyelesaikan tugas kuliahnya yang baru dia kerjakan setengah.
*****

Siang hari yang panas seperti menggambarkan perasaan Tasya yang sedang kesal karena HPnya diambil guru saat ada razia di sekolah. Dan HP itu hanya akan dikembalikan jika yang mengambil orang tuanya.
“Aku pulaanggg..” ucap Tasya sambil masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu ada kak Angga, sahabat baiknya kak Reza, mereka sudah berteman dari SMP. Yahh, kata orang-orang persahabatan cowok lebih tahan lama dari persahabatannya cewek. Mungkin itu salah satu buktinya.
“Hei, Sya. Kenapa muka lo? Kusut amat.” sapa kak Angga basa-basi.
“Hp Tasya dirazia kakkkk :(“
“Haha kasian, makanya jangan bawa hp ke sekolah tuh.” ledek kak Angga.
“Bukannya dihibur malah diledekin -_-“
“Iya deh maaf, jangan cemberut geh, nanti gak ada yang suka loh.”
“Yee, banyak ya yang suka mah :p Ditolak semua haha.”
 “Iya tau, gak boleh pacaran kan, masih kecil sih.”
“Iyaa padahal udah gede tau, udah SMA. Kak Rezanya mah pacaran sama kak Vriska, curang kan :(“
“Dibilangin masih kecil juga. Eh tapi kakak lo setia banget ya sama Vriska, padahal waktu kemaren-kemaren dia ditembak sama Dewi dan Renata, cantik banget mereka berdua tuh. Tapi ditolak sama kakak lo, dia lebih milih Vriska. Ckck..”
“Iya kak?”
“Iya, tanya aja ke Rezanya kalau gak percaya.”
“WOY Ngga! Sini ke kamar gue, gentian ngerjain tugasnya!!!” teriak kak Reza dari kamarnya.
“YOO!” kak Angga pun berjalan ke kamar kak Reza.
Tasya masih mengingat-ingat perkataan kak Angga tadi “Kak Reza nolak kak Dewi dan kak Renata yang cantik banget dan lebih milih kak Vriska? Masa sih? Emang kak Reza setia gitu ya?”
*****

Malam harinya, Tasya menemui mamanya dan menceritakan masalah HPnya yang dirazia. Mamanya setuju untuk mengambil HP Tasya dengan syarat Tasya gak boleh bawa HP lagi ke sekolah, kalau Tasya melanggar dan HPnya dirazia sekolah lagi, mamanya gak akan mau ngambil ke sekolah dan mengikhlaskan HP anak perempuannya untuk disita selamanya.
Dengan berat hati Tasya menyetujui syaratnya. Untuk sekarang yang dipikirkan Tasya HPnya kembali dan kontak diHPnya gak ilang. Urusan ke depan dia cuma bisa berharap, sekolahnya mengubah peraturan dan memperbolehkan siswanya membawa HP. Walau itu sangat mustahil terjadi.
“Besok pagi gue print tugasnya.” Terdengar suara kak Angga dari depan pagar rumah Tasya.
“Oke.”
Mendengar suara kak Angga, Tasya kembali mengingat kata-kata kak Angga tadi siang. Dengan niat iseng dia mengikuti kakaknya perlahan dari belakang. Saat kakaknya udah masuk ke kamar. Tasya memberi jeda waktu beberapa menit, lalu dia membuka pintu kamar kakaknya.
“Kak.” panggil Tasya.
“Apa?”
“Kakak nolak kak Dewi sama kak Renata ya? Kenapa? Padahal kan mereka lebih cantik dari kak Vriska.” tanya Tasya to the point.
“Hah? Tau darimana? Pasti dari Angga ya -_-“
“Iya hehe.”
“Iyalah nolak, kakak kan udah pacaran sama Vriska.”
“Oh gitu…”
“Tapi kamu mah gak boleh pacaran, masih kecil!”
“IYA TAU!” Tasya langsung keluar dan membanting pintu kamar kak Reza.
Kak Reza yang melihat tingkah adiknya itu hanya menghela nafas, dia berjalan ke arah laci, mengambil sebuah obat, dan meminumnya.
“Gak boleh pacaran, gak boleh pacaran. Tanpa diingetin lagi juga gue udah tau. Gue gak pikun! Gue masih inget! Kesal!” dumel Tasya dalam hati.
*****

Hujan deras membasahi kota Bandung ini. Membasahi semua yang ada di atas tanah.
“Ma, Pa. Kakak kenapa? Kenapa dia harus dirawat di rumah sakit. Padahal kemarin dia gak kenapa-napa kan.” Tasya yang baru sampai di rumah sakit langsung bertanya segala macam yang ada dibenaknya.
Mama dan papanya hanya diam membisu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
“Ma, Pa! Kenapa diam aja? Kenapa gak jawab pertanyaan Tasya?!”
Seorang dokter keluar dari ruang rawat kak Reza. Tasya pun langsung menghampirinya, “Dok, kakak saya kenapa?”
“Tenang dik, kakak kamu ingin bicara dengan kamu.”
Tasya langsung masuk ke dalam ruang rawat itu. Dia melihat kakaknya yang selama ini bagi Tasya paling menyebalkan terlihat tak berdaya. Selang infus terpasang di sekujur tubuhnya. Melihat kondisi kakaknya itu, tanpa sadar Tasya mengeluarkan air matanya.
“Hai adik kakak yang cantik :)” sapa kak Reza dengan suara lemah.
“Kakak kenapa? :’(“
“Gak kenapa-napa. Ngapain kamu nangis? Cengeng! :p”
“Ihhhh… dikhawatirin juga >,<”
“Iya, makasih :)”
“Kakak mau ngomong apa sama aku?”
“Cuma mau bilang, jaga diri kamu baik-baik ya de :)”
“Apa sih ngomongnya. Kayak kakak mau pergi aja :(” Tasya memeluk kakaknya itu dengan lembut.
“Aku sayang kamu, mama dan papa.”
Setelah berkata itu kak Reza menutup mata untuk selamanya. Mama dan papa yang sudah berada di dalam ruang rawat itu terenyum sedih, mama menghampiri Tasya dan membebaskan pelukannya pada kak Reza.
“Mama?” Tasya meras bingung. Dia melihat kakaknya, matanya tertutup hangat. Dia mengira kakaknya sedang tertidur pulas, tetapi ketika dokternya mendekati kak Reza dan mencabut semua infus yang ada di tubuh kak Reza, Tasya mulai sadar.
“Jangan dicabutttt dokter!!!” Tasya berusaha mencegah, tapi dihalangi oleh mama dan papanya.
“Udah sayang. Kamu harus ikhlas.” ucap mamanya.
“Gakkkk, kakakkk buka matanya, kakak cuma tidur kan. Ayo bangun! Kak Rezaaaaa!!!” teriak Tasya histeris.
Mama dan papanya membawa Tasya keluar dari ruangan itu. Mamanya berusaha menenangkan hati Tasya dengan berbagai ucapan.

*****
7 hari setelah kepergian kak Reza…
Ternyata kak Reza mempunyai penyakit kanker. Dia hanya dapat bertahan hidup hingga usianya 21 tahun. Dan tepat sehari setelah kepergian kak Reza adalah hari ulang tahun kakaknya yang ke 21 tahun.
Tasya sedang duduk diam di depan jendela kamarnya. Di tangannya, terdapat bingkai foto yang berisi foto dia dan kakaknya saat liburan sekolah tahun lalu. Tasya dan kak Reza jarang sekali foto berdua. Foto mereka itu pun tidak sengaja, saat Tasya lagi bergaya untuk difoto, tiba-tiba kakaknya datang mencubit pipi Tasya. Dan terciptalah foto itu.
Mengingat kejadian itu, Tasya mulai menangis. Dia kangen kak Reza. Dia kangen bertengkar dengan kakaknya. Dia kangen dengan segala kejailan kakaknya. Dia kangen dengan semua larangan-larangan kakaknya.
Tok tok tok…
“Tasya, buka pintunya sayang.” ucap mama Tasya di depan pintu kamar Tasya.
“Kenapa Ma? Tasya lagi sibuk ngerjain PR nih.”
“Iya mama tau, mama cuma mau ngasih surat dari….. kak Reza.”
“Surat dari Kak Reza?” gumam Tasya dalam hatinya. Dia berdiri, menaruh bingkai foto yang dipegangnya di atas meja belajar dan membuka setengah pintu kamarnya. Dia tidak ingin mata sembabnya terlihat oleh mamanya.
“Ini sayang. Dibaca ya :)” mamanya menyerahkan sebuah amplop putih pada Tasya.
“Iya, makasih, Ma.” Tasya berusaha tersenyum, lalu kembali menutup pintunya.
Tasya duduk di atas kasurnya dan memperhatikan amplop putih yang dipegangnya. Dengan perlahan dia membuka amplop itu dan mengambil sebuah kertas berwarna pink.
Tulisan dikertas itu adalah tulisan kakaknya, tidak bagus, tidak juga jelek, masih bisa dibaca, tanpa sadar Tasya tersenyum melihat tulisan kakaknya itu. Dia pun membaca surat dari kak Reza,
Hai Tasya, adik kakak yang cantik :)
Pertama, kakak mau jawab pertanyaanmu waktu dulu "Kenapa kakak nolak cintanya Kak Renata dan Kak Dewi padahal mereka lebih cantik dari Kak Vriska. Tapi Kakak malah milih Kak Vriska ".
Waktu itu sebenarnya kakak ingin menjawab, "Karena kakak mencintai kak Vriska, bukan Kak Renata dan Kak Dewi. Kakak gak mau menerima mereka berdua tanpa rasa cinta, itu hanya akan membuat mereka terluka. Kakak gak mau menyakiti perempuan. Karena kakak punya adik perempuan, yaitu kamu :) Banyak orang yang bilang, karma itu berlaku, kakak gak mau kamu disakiti cowok karena salah kakak yang suka nyakitin cewek."
De, surat ini tentang kamu. Saat dulu kakak tau kalau kakak punya adik perempuan. Kakak biasa aja, gak ada rasa takut seperti sekarang. Tapi saat kamu tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, perasaan takut itu mulai muncul. Kakak takut kamu punya pacar, bukan karena kakak cemburu. Kakak cuma takut kamu disakiti olehnya. Perasaan takut itu membuat kakak bersikap overprotective dan kamu pun mulai membenci kakak.
Jujur, kakak gak ada maksud sedikit pun membuat kamu terkekang dengan larangan kakak "Gak boleh pacaran". Itu semua demi kebaikanmu, tapi mungkin cara kakak salah.
Tapi tenang de, rasa terkekang kamu itu gak akan lama. Setelah kakak gak ada, setelah kamu membaca surat ini, kamu akan terbebas dari semuanya. Gak akan ada lagi yang ngestalk inboxmu dan ngelarang kamu pacaran.
Pesan kakak cuma 1, jaga diri kamu baik-baik, jangan pernah mengecewakan mama dan papa. Kakak sayang kamu, selalu dan selamanya :)
“Kak Reza bodohhhhhh!!! Aku gak pernah benci kakak. Aku itu sayang kakak, aku gak mau kehilangan kakak!!! Kenapa kakak baru ngasih surat ini setelah kakak gak ada? Kenapa gak dari dulu kak? Kenapa kaakkkkk???” Tasya berteriak dan menangis, dia mengacak-acak kasurnya dan melemparkan semua bonekanya.
“Sayaangg, kamu kenapa?” teriak mama dan papanyanya dari luar pintu kamar Tasya.
Karena Tasya tidak membuka-bukakan pintu kamarnya, mama menyuruh papanya untuk mendobrak kamar Tasya.
Brakkkkkk…
Mama Tasya langsung menghampiri dan memeluk anaknya yang sedang menangis dibawah lantai.
“Kamu kenapa sayang?”
“Kakak jahat, Ma. Kakak baru ngasih tau semuanya setelah dia ninggalin aku :’(“
“Udah sayang, kamu jangan nangis kayak gini. Kakak kamu gak bermaksud jahat, dia sayang kamu. Kalau kamu nangis, kakak kamu pasti sedih. Apa kamu gak sayang kak Reza? Apa kamu tega lihat kak Reza gak tenang disana?”
 “Gak, Ma. Aku sayang kak Reza. Aku mau buat kakak bahagia disana :’)”
“Ya udah, kalau gitu sekarang kamu ganti baju. Kita ke tempat kak Reza ya.”
“Iya, Ma :)”
Mama dan papa Tasya keluar dari kamar. Di dalam kamar, Tasya memasukkan surat dari kakaknya itu ke dalam amplop dan menaruhnya di dalam tas jinjing yang akan dia bawa. Tasya memilih baju hitam berlengan panjang, memoles sedikit bedak dimukanya dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Dia tersenyum di depan cermin, “Kak, aku datang.”
*****

Di sebuah pemakaman umum. Tasya, mama dan papanya duduk mengelilingi makam kak Reza.
Tasya menaruh bunga disamping nisan kakaknya, lalu dia mengelus-elus nisan kakaknya dan berbisik “Kak, Tasya janji gak akan ngecewain mama dan papa. Kakak yang tenang ya disana, Tasya sayang kakak selalu dan selamanya :)”


_Tamat_

Your Reply